Sholawat Nabi

Teks Sholawat Nabi Arab Latin Lengkap dengan Artinya

Diposting pada

Teks Sholawat Nabi Arab Latin Lengkap dengan Artinya, Keutamaan, Amalan, dan Adab Membacanya

اَللّـٰـهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَـيَّدِنَا مُحَمَّدٍ

Hai Sobat Bacaankita! Kalian pasti sering mendengar tentang Sholawat Nabi kan? Tapi, mungkin ada yang belum tahu teks lengkapnya, artinya, keutamaan, amalan, dan adab membacanya. Yuk, kita bahas bersama biar makin paham dan cinta sama Nabi Muhammad SAW.

Sholawat kepada Nabi Muhammad SAW tidak hanya dilakuan oleh umat manusia. Allah dan para malaikat juga bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana dijelaskan dalam (Q.S Al-Ahzab [33]:56)

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat bersholawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bersholwatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”

Cara Allah dan para malaikat bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW berbeda dengan cara kita bersholawat untuk Nabi Muhammad SAW. Allah bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW dengan menurunkan rahmat-Nya. Adapun para malaikat bersholawat dengan cara memohon ampunan dan memberi pernghormatan untuk Nabi Muhammad SAW.

 

Apa itu Sholawat Nabi?

Pengertian Sholawat Nabi

Sholawat Nabi adalah bentuk pujian dan doa yang ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai penghormatan atas peran dan jasa beliau dalam menyebarkan ajaran Islam. Kata “sholawat” berasal dari bahasa Arab yang berarti doa atau permohonan, dan dalam konteks ini, sholawat merujuk pada doa-doa khusus yang mengandung pujian kepada Nabi. Hal ini didasarkan pada ajaran Al-Qur’an dan hadits, di mana umat Islam dianjurkan untuk sering mengucapkan sholawat sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.

Asal usul dan sejarah singkat Sholawat Nabi

Bagaimana sejarah dan asal muasal sholawat.

Mengapa sholawat bisa menjadi seterkenal dan membudaya seperti sekarang?

Membahas sejarah sholawat tentu tidak bisa terlepas dari Surat Al-Ahzab ayat 56:

  إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Sebab turunnya ayat ini bisa dibilang menjadi sejarah sholawat kepada Rasul SAW. Sebab, At-Thabari menyebutkan bahwa setelah ayat ini turun, ada seorang sahabat yang bertanya terkait bunyi sholawat kepada Rasulullah SAW. Kemudian Rasul SAW menyebutkan sholawat Ibrahimiyah, sebagaimana yang biasa kita baca pada tasyahud akhir saat shalat.

Ayat tersebut oleh At-Thabari memerintahkan orang-orang yang beriman untuk mendoakan Rasul SAW dan keselamatannya, (Lihat Ibnu Jarir At-Thabari, Jāmiʽul Bayān fi Ta’wīlil Qur’ān, [Beirut, Muassasatur Risālah: 2000], juz XX, halaman 320).

Terkait kapan sholawat itu diwajibkan kepada Rasul SAW, merujuk pada turunnya ayat tersebut kepada Rasul SAW, perintah sholawat tersebut diturunkan pada bulan Syaban pada tahun kedua Hijriyah.

Oleh Abu Dzar Al-Harawī, inilah yang disebut bulan Syaban sebagai bulan sholawat, (Lihat Muḥammad ibn ʽAbdur Rahmān As-Sakhawi, Al-Qaulul Bādiʽ fis Ṣhalāh ʽalal Ḥabībis Syāfiʽ, [Madinah, Muassasatur Rayyān: 2002 M], halaman 92).

Secara lebih lanjut As-Suyuṭī menjelaskan bahwa sholawat sebenarnya sudah ada sejak masa Nabi Musa AS dan kaumnya, Bani Isra’il. Saat itu Bani Isra’il bertanya kepada Nabi Musa AS, terkait apakah Allah SWT bersholawat kepada makhluk-Nya. Mendengar pertanyaan dari kaumnya tersebut, Nabi Musa AS kemudian berdoa dan meminta jawaban kepada Allah SWT. Allah SWT pun menjawab pertanyaan Nabi Musa AS.

Allah SWT berfirman kepada Nabi Musa AS.

يَا ُموسَى إِنْ سَأَلُوْكَ هَلْ يُصَلِّي رَبُّكَ؟ فَقُلْ : نَعَمْ . أَنَا أُصَلِّي وَمَلَائِكَتِي عَلَى أَنْبِيَائِي وَرُسُلِي

Artinya: “Wahai Musa AS, sungguh kaum Bani Israil bertanya kepadamu, apakah Tuhanmu bersholawat kepada makhluk-Nya? Jawablah, ‘Iya. Aku dan juga para malaikatku bersholawat kepada para nabi dan rasul-Ku,’” (Lihat Jalaludin As-Suyuthi, Ad-Durārul Mantsūr, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz VIII, halaman 197).

Kemudian turunlah Surat Al-Ahzab di atas. As-Suyūṭī menambahkan bahwa setelah turun ayat tersebut, kaum Bani Israil tersebut kemudian bahagia dan memujinya.

Dari hal ini bisa diambil kesimpulan bahwa anjuran bersholawat turun untuk menghargai dan memuji utusan Rasul SAW atas tanggungannya berdakwah kepada para kaumnya.

Sholawat itu awalnya sebagai kabar baik kepada kaum Bani Israil, namun Allah SWT juga memberikan keutamaan kepada para nabi melalui sholawat kepadanya terlebih dahulu karena semuanya disampaikan melalaui perantaranya.

Ini juga bisa termasuk sebagai penghargaan kepada Nabi dan Rasul tersebut. Dalam hal ini Ubay ibn Ka’ab menyebutkan bahwa tidak ada hal baik yang diturunkan kepada seorang Rasul kecuali Rasul tersebut menjadi bagian dari hal baik tersebut.

Turunlah Surat At-Taubah ayat 112.

  التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

Artinya: “Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Gembirakanlah orang-orang mukmin itu,” (Lihat Jalaludin As-Suyuthi, Ad-Durārul Mantsūr, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz VIII, halaman 197).

Oleh karena itu pada masa Rasulullah SAW, sholawat ini juga bisa menjadi sebuah penghargaan kepada Rasul SAW. Itulah mengapa ketika nama Rasul SAW disebut, Rasul SAW menganjurkan kita untuk membaca sholawat kepadanya, bahkan dengan memberikan janji keutamaan-keutamaan yang banyak.

Hal ini diperkuat oleh pendapat Al-Ghazali dan beberapa ulama lain yang dikutip oleh As-Sakhawi yang menyebutkan bahwasanya sholawat kepada Nabi SAW tidak terbatas sebagai doa, tapi juga sebagai pujian dan sebagai ibadah. Wallahu a‘lam.

Teks Sholawat Nabi

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Allahumma sholli ala sayyidina muhammadin wa’alaa aali sayyidinaa muhammadin

 

Arti Sholawat Nabi

Terjemahan dalam Bahasa Indonesia

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad.”

 

Makna dan Keutamaan

Makna dari Setiap Bagian Sholawat Nabi

Secara bahasa as-shalawât ( الصلوات ) merupakan bentuk jamak dari kata as-shalât ( الصلاة ) yang berarti berdoa. Karenanya maka bersholawat kepada Rasulullah berarti mendoakan kebaikan bagi beliau. Ini secara bahasa. Namun demikian apakah perintah untuk bershalawat kepada Nabi memang ditujukan dan dimaksudkan agar umat ini mendoakan beliau? Ada banyak penjelasan ulama tentang hal ini.

Allah subhânahû wa ta’âlâ di dalam Surat Al-Ahzab ayat 56 berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya selalu bersholawat kepada Nabi Muhammad. Wahai orang-orang yang beriman bersholawatlah kalian kepadanya dan bersalamlah dengan sungguh-sungguh.”

Setidaknya ada dua poin besar yang bisa dipahami dari ayat di atas, yakni:

Pertama, Allah dan para malaikat selalu bersholawat kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Kedua, Adanya perintah bagi orang-orang mukmin untuk bershalawat dan bersalam kepada beliau.

Dari kedua poin besar itu kemudian lahir beberapa pertanyaan di antaranya:

Apa makna sholawat yang berasal dari Allah, para malaikat dan orang-orang mukmin? Bila sholawat memiliki makna dasar berdoa sebagaimana dijelaskan di atas, maka apa maksud Allah bersholawat kepada Nabi, apakah Allah mendoakan beliau? Bila iya, lalu Allah berdoa kepada siapa? Bila Allah telah bersholawat kepada Nabi, lalu apa faedah sholawatnya para malaikat dan faedahnya orang-orang mukmin juga diperintah untuk bersholawat? Tidakkah sholawat-Nya Allah sudah lebih dari cukup sehingga tak dibutuhkan lagi dari selain-Nya?

Imam Al-Qurtubi di dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa sholawatnya Allah kepada Nabi Muhammad berarti rahmat dan keridloan-Nya kepada beliau. Sedangkan sholawatnya para malaikat berarti doa dan permohonan ampun (istighfar) mereka bagi Rasulullah. Adapun sholawatnya umat beliau merupakan doa dan pengagungan terhadap kedudukan Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam (Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâmil Qur’ân, Kairo, Darul Hadis, 2010, jil. VII, hal. 523).

Makna-makna ini tidak saja disampaikan oleh Al-Qurthubi tapi juga oleh para mufassir di dalam berbagai kitab mereka. Dari sini bisa dipahami bahwa sholawat yang disampaikan oleh Allah, para malaikat, dan orang-orang mukmin memiliki makna yang berbeda satu sama lain.

Sholawatnya Allah kepada Nabi jelas tidak mungkin diartikan sebagai doa bagi beliau. Karena mendoakan kebaikan bagi seseorang berarti memohonkan suatu kemanfaatan bagi orang tersebut dari pihak ketiga. Bila sholawatnya Allah dimaknai demikian maka kepada siapakah Allah memintakan kebaikan bagi Nabi-Nya? Jelas ini mustahil. Selanjutnya ada kesamaan makna antara sholawat yang disampaikan oleh para malaikat dan sholawat yang dibacakan oleh orang-orang mukmin, yakni sama-sama bermakna doa atau permohonan kebaikan bagi beliau. Dengan bersholawat para malaikat dan orang-orang mukmin memohon kepada Allah untuk selalu mencurahkan rahmat dan pengagugan-Nya kepada Baginda Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Hanya saja perlu digaris bawahi pula bahwa yang demikian itu bukan berarti Rasulullah membutuhkan doanya para malaikat dan umat untuk kebaikan diri beliau. Bila Rasulullah butuh terhadap doanya malaikat dan umatnya yang berupa sholawat maka kiranya shalawat Allah kepada beliau sudah lebih dari cukup, tak ada kebutuhan doa sholawat dari selain-Nya.

Berbeda-bedanya makna sholawat yang dilakukan oleh Allah dan para malaikat serta orang-orang mukmin semuanya sejatinya dimaksudkan untuk satu hal, yakni memperlihatkan pengagungan kepada beliau dan menghormati kedudukan beliau yang luhur sebagaimana mestinya.

Hal ini sama dengan ketika Allah memerintahkan kita untuk selalu mengingat-Nya, bukan berarti Allah butuh diingat oleh hamba-Nya namun karena untuk menunjukkan kebesaran dan kedudukan-Nya.

Dalam hal ini Imam Fakhrudin Ar-Razi di dalam kitab tafsir Mafâtîhul Ghaib menjelaskan:

الصَّلَاةُ عَلَيْهِ لَيْسَ لِحَاجَتِهِ إِلَيْهَا وَإِلَّا فَلَا حَاجَةَ إِلَى صَلَاةِ الْمَلَائِكَةِ مَعَ صَلَاةِ اللَّهِ عَلَيْهِ، وَإِنَّمَا هُوَ لِإِظْهَارِ تَعْظِيمِهِ، كَمَا أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَوْجَبَ عَلَيْنَا ذِكْرَ نَفْسِهِ وَلَا حَاجَةَ لَهُ إِلَيْهِ، وَإِنَّمَا هُوَ لِإِظْهَارِ تَعْظِيمِهِ مِنَّا شَفَقَةً عَلَيْنَا لِيُثِيبَنَا عَلَيْهِ

Artinya: “Bersholawat kepada Nabi bukanlah karena kebutuhan beliau kepadanya. Bila Nabi membutuhkan sholawat maka tak ada kebutuhan terhadap sholawatnya malaikat yang bersamaan dengan sholawatnya Allah kepada beliau. Sholawat itu hanya untuk menampakkan pengagungan terhadap beliau, sebagaimana Allah memerintahkan kita untuk mengingat Dzat-Nya sementara Allah tak memeiliki kebutuhan untuk diingat. Hal itu semata-mata karena untuk menampakkan sikap pengagungan terhadap beliau dari kita dan untuk Allah memberikan ganjaran bagi kita atas pengagungan tersebut.” (Fakhrudin Ar-Razi, Mafâtîhul Ghaib, 2000 [Beirut: Darul Fikr, 1981], Jil. XXV, hal. 229)

Imam Baidlowi dalam tafsirnya menyampaikan bahwa Allah dan para malaikat bersholawat kepada Nabi artinya memberikan perhatian dalam menampakkan kemuliaan beliau dan mengagungkan kedudukannya. Sedangkan perintah kepada orang-orang mukmin untuk bersholawat kepada beliau berarti perintah agar mereka ikut serta memperhatikan pengagungan tersebut karena mereka lebih selayaknya mengagungkan Baginda Rasulullah dengan membaca sholawat Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad. (Nashirudin Al-Baidlowi, Anwârut Tanzîl wa Asrârut Ta’wîl, 2000 [Damaskud: Darur Rosyid], Jil. III, hal. 94)

Lebih lanjut, diperintahkannya orang-orang mukmin bersholawat kepada Nabi selain untuk mengagungkan beliau juga dimaksudkan agar sholawat menjadi sarana bagi mereka untuk mendapatkan pahala dan anugerah dari Allah yang berlimpah ruah.

Dalam hal ini Rasulullah pernah bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى الله عَلَيْهِ عَشْرًا

Artinya: “Barangsiapa yang bersholawat kepadaku sekali, maka Allah bersholawat kepadanya sepuluh kali.”

Orang yang mendapat sholawat dari Allah berarti dia mendapatkan anugerah yang sangat besar dari-Nya. Hal ini bisa dipahami setidaknya dari ekspresi Rasulullah ketika diberitahu malaikat Jibril perihal orang yang bersholawat kepada Nabi akan mendapat sepuluh sholawat dari Allah. Saat itu Rasulullah seketika bersujud sangat lama sekali sebagai rasa syukur bahwa umatnya mendapat anugerah yang begitu besar dari Allah hanya dengan bersholawat sekali saja.

Dengan demikian sesungguhnya yang membutuhkan sholawat bukanlah diri Rasulullah, namun umat beliau. Sebab ketika seseorang bersholawat kepadanya maka ia akan mendapatkan limpahan anugerah dari sholawatnya itu. Wallâhu a’lam. 

 

Keutamaan Membaca Sholawat Nabi

Berikut ini 10 keutamaan membaca sholawat Nabi dari Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dalam akhir karyanya Kitab Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya, dilansir dari NU Online. Sepuluh keutamaan ini disarikan dari Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah SAW.

1. Mendapatkan rahmat dari Allah yang maha kuasa dan maha pengampun (shalatul malikil ghaffar).

2. Mendapat syafaat dari  Nabi Muhammad saw (syafa’atun nabiyyil mukhtar).

3. Mengikuti tradisi malaikat abrar (al-Iqtida bil mala’ikatil abrar).

4. Membedakan diri dari orang munafik dan orang kafir (mukhalafatul munafiqin wal kuffar).

5. Penghapusan kesalahan dan dosa (ahwul khathaya wal awzar).

6. Pemenuhan hajat dan harapan  (qadha’ul hawa’ij wal awthar).

7. Penerangan lahir dan batin (tanwiruz zawahir wal asrar).

8. Keselamatan dari neraka (an-najatu minan nar).

9. Masuk ke dalam surga (dukhulu daril qarar).

10. Salam dari Allah yang maha mulia dan kuasa (alamul azizil jabbar).​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​

Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi menganjurkan agar kita tidak menyia-nyiakan waktu tanpa membaca sholawat nabi mengingat banyaknya keutamaan yang terkandung dalam amaliyah sholawat nabi.

اخواني أكثروا من الصلاة على هذا النبي الكريم فإن الصلاة عليه تكفر الذنب العظيم وتهدي إلى الصراط المستقيم وتقي قائلها عذاب الجحيم ويحظي في الجنة بالنعيم المقيم

Artinya: “Wahai para sahabatku, perbanyaklah membaca sholawat untuk nabi mulia ini. niscaya sholawat itu menghapus dosa besar, menunjuki ke jalan lurus, melindungi orang yang membacanya dari siksa neraka jahim.”

​​​​​​​Melihat keutamaannya yang sangat penting sungguh beruntung kita yang selalu membaca sholawat dan merutinkannya. Semoga kita tetap istiqamah dalam keimanan dan kebaikan.

 

Cara Mengamalkan Sholawat Nabi

Waktu dan Cara Terbaik untuk Membaca Sholawat Nabi

Selain kewajiban bersholawat ada juga waktu-waktu tertentu di mana seseorang dianjurkan untuk membaca sholawat. Pun para ulama juga berbeda pendapat saat kapan saja kesunnahan bershalawat itu dilakukan.
  Berikut adalah 20 (dua puluh) waktu yang disunnahkan untuk membaca sholawat sebagaimana disampaikan oleh Sirajudin Al-Husaini di dalam kitabnya As-Shalâtu ‘alan Nabiyyi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam (Damaskus: Maktabah Darul Falah, 1990).
  Pertama, Sunnah membaca sholawat setelah selesai dikumandangkannya adzan.
  Ada beberapa hadits yang menuturkan tentang hal ini di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
  إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ، فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى الله عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا
  Artinya: “Bila kalian mendengar orang yang mengumandangkan adzan maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan, lalu bersholawatlah kepada karena orang yang bersholawat kepaku sekali maka dengan sholawat itu Allah bersholawat kepadanya sepuluh kali.”
Kedua, Disunnahkan membaca sholawat di awal, tengah dan akhir doa. Dengan membaca sholawat di ketiga tempat itu saat berdoa maka akan lebih kuat potensi dikabulkannya doa tersebut dan lebih banyak lipatan pahalanya.
  Sebuah hadits riwayat Imam Turmudzi menjelaskan tentang membaca sholawat di dalam berdoa:
  عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ، قَالَ: بَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاعِدٌ إِذْ دَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى فَقَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَجِلْتَ أَيُّهَا الْمُصَلِّي، إِذَا صَلَّيْتَ فَقَعَدْتَ فَاحْمَدِ اللَّهَ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ، وَصَلِّ عَلَيَّ ثُمَّ ادْعُهُ. قَالَ: ثُمَّ صَلَّى رَجُلٌ آخَرُ بَعْدَ ذَلِكَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّهَا الْمُصَلِّي ادْعُ تُجَبْ
Artinya: “Dari Fudlalah bin Ubaid ia berkata, ketika Rasulullah sedang duduk tiba-tiba masuk seorang lelaki kemudian melakukan shalat dan berkata, “Ya Allah, ampuni aku dan kasihani aku.” Maka Rasulullah bersabda, “Engkau terburu-buru wahai orang yang shalat. Bila engkau selesai shalat kemudian duduk maka pujilah Allah sebagaimana mestinya dan bersholawatlah kepadaku kemudian berdoalah kepada Allah.” Fudlalah berkata, kemudian seorang laki-laki lain melakukan shalat, lalu memuji kepada Allah dan bersholawat kepada Nabi. Maka Rasulullah bersabda, “Wahai orang yang shalat, berdoalah maka engkau akan diijabahi.”
  Imam Al-Ghazali di dalam kitab Ihya-nya mengutip penjelasan dari Abu Sulaiman Ad-Darani yang mengatakan disunnahkannya menjadikan doa berada di tengah-tengah antara dua sholawat (awal dan akhir) karena doa yang demikian tidak akan ditolak. Kiranya Allah yang mulia tak layak baginya mengabulkan dua sisi awal dan akhir sementara menolak sisi tengahnya.
  Lebih lanjut Al-Husaini menegaskan bahwa yang lebih disukai dan lebih utama di dalam berdoa adalah dengan membaca sholawat di awal, tengah dan akhirnya, serta tidak meringkas bacaan sholawat hanya di akhir doa saja.
  Ketiga, Disunnahkan membaca sholawat ketika memasuki masjid dan ketika keluar darinya.
  Sebuah hadits riwayat Imam Turmudzi dari Sayyidatina Aisyah radliyallâhu ‘anhâ:
  كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ صَلَّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَسَلَّمَ وَقَالَ: رَبِّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ، وَإِذَا خَرَجَ صَلَّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَسَلَّمَ وَقَالَ: رَبِّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ فَضْلِكَ
Artinya: “Adalah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam ketika memasuki masjid beliau bersholawat dan bersalam untuk Muhammad dan berdoa Rabbi ighfir lî dzunûbî waftah lî abwâba rahmatika. Dan ketika keluar beliau bersholawat dan bersalam kepada Muhammad serta berdoa Rabbi ighfir lî dzunûbî waftah lî abwâba fadllika.”
  Keempat, Disunnahkan membaca sholawat ketika bertemunya seorang muslim dengan sesama muslim.
  Abu Ya’la Al-Mushili meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah:
  مَا مِنْ عَبْدَيْنِ مُتَحَابَّيْنِ فِي اللَّهِ يَسْتَقْبِلُ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ فَيُصَافِحُهُ وَيُصَلِّيَانِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا لَمْ يَفْتَرِقَا حَتَّى تُغْفَرَ ذُنُوبُهُمَا مَا تَقَدَّمَ مِنْهُمَا وَمَا تَأَخَّرَ
Artinya: “Tidaklah dua orang hamba yang saling mencintai di jalan Allah salah satunya menemui saudaranya kemudian menyalaminya dan keduanya bersholawat kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam kecuali keduanya tidak berpisah sampai diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang kemudian.”
  Kelima, Membaca sholawat disunnahkan ketika berkumpul di suatu majelis.
  Disunnahkan bagi kaum muslimin ketika mereka berkumpul di suatu majelis untuk menghiasi majelis mereka dengan membaca sholawat.
  Ibnu Umar meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:
  زينوا مجالسكم بالصلاة علي فان صلاتكم علي نور لكم يوم القيامة  
Artinya: “Hiasilah majelis-majelis kalian dengan bersholawat kepadaku. Karena sholawat kalian kepadaku adalah cahaya bagi kalian di hari kiamat.”
  Adapun hadits yang mengingatkan untuk tidak meninggalkan bacaan sholawat di majelis di antaranya hadits riwayat Imam Ahmad:
  مَا قَعَدَ قَوْمٌ مَقْعَدًا لَا يَذْكُرُونَ فِيهِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ، وَيُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَإِنْ دَخَلُوا الْجَنَّةَ لِلثَّوَابِ
Artinya: “Tidaklah sekelompok orang duduk di suatu tempat di mana mereka tidak berdzikir kepada Allah dan tidak bersholawat kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam kecuali hal itu menjadi kerugian bagi mereka di hari kiamat meskipun mereka masuk surga, karena besarnya pahala (bersholawat ketika berkumpul, penulis).”
  Keenam, Disunnahkan menuliskan sholawat ketika menulis nama Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam.
  Di antara dalil yang menganjurkan hal ini adalah hadits riwayat Imam Thabrani dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah pernah bersabda:
  مَنْ صَلَّى عَلَيَّ فِي كِتَابٍ لَمْ تَزَلِ الْمَلَائِكَةُ تَسْتَغْفِرُ لَهُ مَا دَامَ اسْمِي فِي ذَلِكَ الْكِتَابِ
Artinya: “Barang siapa yang bersholawat kepadaku di dalam sebuah buku (tulisan) maka para malaikat tidah henti-hentinya memintakan ampun baginya selama namaku masih ada di dalam buku itu.”
  Ketujuh, Membaca sholawat disunnahkan ketika membuka setiap ucapan baik yang memiliki tujuan tertentu disamping juga disunnahkan membukanya dengan hamdalah dan pujian kepada Allah.
  Sebuah riwayat dari Ibnu Mandah menyatakan:
كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه بذكر الله ثم بالصلاة عليّ فهو أقطع أكتع ممحوق البركة
Artinya: “Setiap perkara yang memiliki tujuan yang tidak diawali dengan dzikir kepada Allah dan sholawat kepadaku maka perkara itu terputus terhapus keberkahannya.”
  Kedelapan, Disunnahkan membaca sholawat dalam membuka nasehat, peringatan dan mengajarkan ilmu, terlebih ketika membaca sebuah hadits.
  Imam Nawawi di dalam kitab Al-Adzkâr menuturkan bahwa disunnahkan bagi orang yang membaca hadits dan selainnya ketika menyebut Rasulullah untuk mengeraskan suaranya dalam bersholawat, namun kerasnya suara itu jangan sampai berlebihan.
  Kesembilan, Sunnah membaca sholawat di waktu pagi dan sore hari.
  Sebuah riwayat dari Abu Darda bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernh bersabda:
  من صلى علي حين يصبح عشرا وحين يمسي عشرا أدركته شفاعتي يوم القيامة
Artinya: “Barang siapa yang bersholawat kepadaku di waktu pagi sepuluh kali dan di waktu sore sepuluh kali maka syafaatku akan mendapatinya di hari kiamat.”
  Kesepuluh, Membaca sholawat juga disunnahkan ketika hendak tidur.
  Dari Abu Qirshafah, ia mengatakan pernah mendengar Rasulullah bersabda bahwa barang siapa yang menuju tempat tidurnya (hendak tidur) kemudian ia membaca surat Tabâraka (Al-Mulk) kemudian ia membaca sebanyak empat kali:
  اللَّهُمَّ رَبَّ الْحِلِّ وَالْحَرَامِ، وَرَبَّ الْبَلَدِ الْحَرَامِ وَرَبَّ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ، وَرَبَّ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ، وَبِحَقِّ كُلِّ آيَةٍ أَنْزَلْتَهَا فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، بَلِّغْ رُوحَ مُحَمَّدٍ مِنِّي تَحِيَّةً وَسَلَامًا

Artinya: Maka Allah akan mewakilkan kepada dua malaikat hingga keduanya datang kepada Nabi Muhammad dan mengatakan kepada beliau perihal yang dilakukan orang tersebut. Maka kemudian Rasulullah menjawab, “untuk Fulan bin Fulan salam dariku dan rahmat serta keberkahan Allah.”  

Kesebelas, Sunnah membaca sholawat bagi orang yang baru saja bangun dari tidur malamnya. Imam Nasai dalam kitab As-Sunan Al-Kubra meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud:
يَضْحَكُ اللهُ إِلَى رَجُلَيْنِ: ….وَرَجُلٍ قَامَ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ لَا يَعْلَمُ بِهِ أَحَدٌ، فَتَوَضَّأَ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ، ثُمَّ حَمِدَ اللهَ وَمَجَّدَهُ، وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاسْتَفْتَحَ الْقُرْآنَ، فَذَلِكَ الَّذِي يَضْحَكُ اللهُ إِلَيْهِ يَقُولُ: انْظُرُوا إِلَى عَبْدِي قَائِمًا لَا يَرَاهُ أَحَدٌ غَيْرِي
Artinya: “Allah ‘tertawa’ terhadap 2 orang; …. dan orang yang bangun di tengah malam di mana tak ada seorang pun yang mengetahuinya, lalu ia berwudlu dan menyempurnakannya, kemudian memuji kepada Allah dan bershalawat kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan memulai membuka Al-Qur’an. Yang demikian itu Allah ‘tertawa’ kepadanya. Ia berfirman, “Lihatlah hamba-Ku sedang berdiri shalat, tak ada seorang pun yang melihatnya selain Aku.”
Kedua belas, Membaca sholawat kepada Nabi disunnahkan ketika telinga berdengung. Abu Rofi’ meriwayatkan sabda Rasulullah:
إِذا طَنَّتْ أُذُنُ أحدِكُمْ فَلْيَذْكُرْنِي ولْيُصَلِّ عَلَيَّ ولْيَقُلْ ذَكَرَ الله مَنْ ذَكَرَنِي بِخَيْرٍ
Artinya: “Apabila telinga salah seorang di antara kalian berdengung maka ingatlah aku dan bersholawatlah kepadaku serta ucapkan dzakarallâhu man dzakaranî bi khair (semoga Allah mengingat orang yang mengingatku dengan kebaikan).”
Al-Munawi di dalam kitab Faidlul Qadîr menjelaskan bahwa yang dimaksud “ingatlah aku” pada hadits tersebut adalah mengucapkan kalimat Muhammad Rasulullâh.
Ketiga belas, Sunnah membaca sholawat ketika lupa akan suatu perkataan. Ibnu Sunni dengan sanad dari Usman bin Abi Harb Al-Bahili meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:
مَنْ أَرَادَ أَنْ يُحَدِّثَ بِحَدِيثٍ فَنَسِيَهُ، فَلْيُصَلِّ عَلَيَّ؛ فَإِنَّ صَلَاتَهُ عَلَيَّ خَلَفًا مِنْ حَدِيثِهِ، وَعَسَى أَنْ يَذْكُرَهُ
Artinya: “Barang siapa yang hendak mengatakan suatu perkataan kemudian ia lupa akan perkataan itu maka bersholawatlah kepadaku, karena sholawatnya kepadaku itu sebagai pengganti ucapannya, semoga ia bisa mengingatnya.”
Keempat belas, Membaca sholawat juga disunahkan setelah selesai melakukan shalat.
Sebuah hikayat menceritakan, satu hari Muhammad bin Umar bersama Abu Bakr bin Mujahid. Kemudian datang Syekh As-Syibli. Melihat kedatangan As-Syibli ini Abu Bakr bin Mujahid segera bangkit menyambutnya. Ia peluk As-Syibli dan mencium di tengah kedua matanya.
Melihat hal ini Muhammad bin Umar bertanya kepada Abu Bakr, “Tuan, engkau lakukan ini kepada As-Syibli, sedangkan engkau dan orang-orang menggambarkan ia sebagai orang yang gila?”
Abu Bakr menjawab bahwa ia lakukan ini meniru apa yang dilakukan oleh Rasulullah kepada As-Syibli. Ia menceritakan bahwa ia telah bermimpi Rasulullah bangun menyambut kedatangan As-Syibli lalu memeluk dan mencium di tengah kedua matanya. Dalam mimpinya itu Abu Bakr bertanya kepada Rasul, “Ya Rasul, engkau lakukan ini kepada As-Syibli?”
Rasulullah menjawab, “Orang ini setelah shalat selalu membaca ayat laqad jâakum rasûlun min anfusikum….. kemudian meneruskannya dengan bersholawat kepadaku.”
Kelima belas, Disunnahkan membaca sholawat kepada Nabi ketika khatam membaca Al-Qur’an.
Ketika khatam membaca Al-Qur’an dianjurkan untuk bersholawat kepada Nabi mengingat saat itu adalah saatnya berdoa di mana doa setelah khatam Al-Qur’an akan dikabulkan.
Keenam belas, Disunnahkan membaca sholawat ketika sedang mengalami kegundahan, keresahan, dan hal-hal yang berat.
Suatu waktu Ubay bin Ka’b menyampaikan beberapa kalimat kepada Rasulullah. Di antaranya ia menyampaikan:
أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا قَالَ: «إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ، وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ
Artinya: “Aku jadikan seluruh doaku sebagai sholawat kepadamu, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, “Kalau begitu akan dicukupi keresahanmu dan akan diampuni dosamu.” (HR. Imam Turmudzi)
Ketujuh belas, Sunnah membaca sholawat ketika berdoa tentang suatu hajat.
من كان له الى الله عز وجل حاجة أو الى احد من بني أدم فليتوضأ وليحسن وضوءه وليصل ركعتين ثم ليثن على الله عز وجل وليصل على النبي صلى الله عليه وسلم ثم ليقل لا اله الا الله الحليم الكريم لا اله الا الله سبحان الله رب العرش العظيم والحمد لله رب العالمين أسألك موجبات رحمتك وعزائم مغفرتك والغنيمة من كل بر والسلامة من كل ذنب لا تدع لي ذنبا الا غفرته ولا هما الا فرجته ولا حاجة هي لك رضا الا قضيتها يا أرحم الراحمين
Artinya: “Barang siapa yang memiliki hajat kepada Allah atau kepada seseorang maka berwudlulah dan baguskanlah wudlunya serta lakukanlah shalat dua rakaat. Kemudian pujilah Allah dan bersholawatlah kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, lalu ucapkanlah: lâ ilâha illallâh al-halîmul karîm, lâ ilâha illallâh subhânallâhi rabbil ‘arsyil ‘adhîm, walhamdu lillâhi rabbil ‘âlamîn, as-aluka mûjibâti rahmatika, wa ‘azâima maghfiratika, wal ghanîmata min kulli birin, was salâmata min kulli dzanbin, lâ tada’ lî dzanban illâ ghafartahu, wa lâ hamman illâ farrajtahu, wa lâ hâjatan hiya laka ridlan illâ qadlaitahâ, yâ arhamar râhimîn.”
Kedelapan belas, Disunnahkan membaca sholawat ketika seorang laki-laki meminang seorang perempuan untuk dinikahi.
Imam Nawawi di dalam kitab Al-Adzkâr menuturkan, disunnahkan orang yang meminang mengawalinya dengan mengucapkan hamdalah dan memuji kepada Allah serta bersholawat kepada Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam, kemudian mengucapkan asyhadu allâ ilâha illallâhu wahdahû lâ syarîkalah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhû wa rasûluhû…
Kesembilan belas, Disunnahkan memberpanyak membaca sholawat kepada Nabi pada hari dan malam Jum’at.
  Ada banyak hadits dari banyak sahabat di mana Rasulullah menganjurkan untuk memperbanyak membaca sholawat pada hari dan malam Jum’at. Beliau juga menjelaskan bahwa pada hari Jumat sholawat dilaporkan kepada beliau secara khusus dan hari Jum’at memiliki kondisi khusus pula.

Kedua puluh, Disunnahkan memperbanyak membaca sholawat ketika sedang melaksanakan ibadah haji dan umrah. Orang yang sedang melaksanakn ibadah haji dan umrah dianjurkan untuk memperbanyak membaca sholawat nabi di berbagai kegiatan manasik haji, baik setelah membaca talbiyah, ketika thawaf, sa’i, wukuf dan lain sebagainya. Wallâhu a’lam.

 

Tata Cara dan Etika Membaca Sholawat Nabi

Saat membaca Sholawat Nabi, ada beberapa Etika dan Adab yang perlu diperhatikan sebagai berikut:

1. Niat yang Ikhlas

Selalu mulai dengan niat yang ikhlas. Pastikan niat kita semata-mata untuk mendapatkan ridha Allah SWT dan sebagai bentuk cinta serta penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.

2. Kondisi Bersih dan Suci

Usahakan saat membaca sholawat dalam keadaan bersih dan suci. Berwudhu sebelum membaca sholawat sangat dianjurkan agar kita dalam keadaan yang lebih baik dan bersih.

3. Memakai Pakaian yang Sopan

Kenakan pakaian yang sopan dan bersih saat membaca sholawat. Ini menunjukkan rasa hormat kita kepada Nabi Muhammad SAW.

4. Posisi Duduk yang Baik

Sebaiknya duduk dengan tenang dan menghadap kiblat jika memungkinkan. Posisi duduk yang baik membantu kita lebih khusyuk dan fokus dalam membaca sholawat.

5. Pahami Artinya

Usahakan untuk memahami arti dari sholawat yang kita baca. Dengan begitu, kita bisa lebih meresapi makna dan tujuan dari sholawat tersebut.

6. Khusyuk dan Tenang

Baca sholawat dengan pelan dan penuh penghayatan. Hindari membaca dengan terburu-buru. Nikmati setiap kata yang kita ucapkan agar lebih terasa maknanya.

7. Jangan Mengganggu Orang Lain

Pastikan saat membaca sholawat, kita tidak mengganggu orang lain. Jika di tempat umum, bacalah dengan suara yang pelan agar tidak mengganggu ketenangan orang di sekitar kita.

8. Memilih Waktu yang Tepat

Ada waktu-waktu yang dianjurkan untuk membaca sholawat, seperti setelah sholat wajib, di pagi hari, petang, dan di hari Jumat. Memilih waktu yang tepat dapat menambah keutamaan sholawat yang kita baca.

9. Menghadap Kiblat

Jika memungkinkan, usahakan untuk menghadap kiblat saat membaca sholawat. Ini merupakan salah satu cara untuk menunjukkan adab yang baik.

11. Berdoa Setelah Membaca Sholawat

Setelah membaca sholawat, kita dianjurkan untuk berdoa. Ini karena sholawat adalah salah satu bentuk ibadah yang sangat dianjurkan, dan berdoa setelah ibadah adalah waktu yang mustajab.

 

Do’a Sebelum Membaca Sholawat

Disebutkan dalam kitab Dalailul Khairat karya Ammar Ali Hasan doa yang perlu dibaca sebelum kita membaca sholawat, yaitu sebagai berikut:

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَـمِــيْنَ وَحَسْبِـــيَ اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِــيِّ الْعَظِيْمِ. أَللّٰهُمَّ إِنِّى أَبْرَءُ إِلَيْكَ مِنْ حَوْلِى وَقُوَّتِى إِلَى حَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ. اَللّٰهُمَّ إِنِّى نَوَيْتُ بِالصَّلٰوةِ عَلٰى النَّـــبِــيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِمْتِــثَالًا لِأَمْرِكَ وَتَصْدِيْقًا لِنَبِيِّـكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَحَبَّــةً فِيْهِ وَشَوْقًا إلَيْهِ وَتَعْظِيْمًا لِقُدْرَتِهِ وَلِكَوْنِهِ أَهْلًا لِذٰلِكَ فَتَقَبَّــلَهَا مِنِّى بِفَضْلِكَ وَإِحْسَانِكَ وَأَزِلْ حِجَابَ الْغَفْلَةِ عَنْ قَلْبِى وَاجْعَلْنِى مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ. اَللّٰهُمَّ زِدْهُ شَرَفًا عَلٰى شَرَفِهِ الَّذِىْ أَوْلَيْتَهُ. وَعِزًّا عَلٰى عِزِّهِ عَلٰى الَّذِىْ أَعْطَيْتَهُ. وَنُوْرًا عَلٰى نُوْرِهِ الَّذِىْ مِنْهُ خَلَقْتَهُ. وَأَعْلِ مَقَامَهُ فِى مَقَامَاتِ الْـمُرْسَلِيْنَ. وَدَرَجَتَهُ فِى دَرَجَاتِ النَّبِيَّـــيْنَ. وَأَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَرِضَاهُ يَارَبَّ الْعَالَـِميْنَ مَعَ الْعَافِيَةِ الدَّائِمَةِ وَالْـمَوْتِ عَلٰى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ وَكَلِمَتَيِ الشَّهَادَةِ عَلٰى تَحْقِيْقِهَا مِنْ غَيْرِ تَغْيِـــيْرٍ وَلَا تَبْدِيْلٍ. وَاغْفِرْلِى مَاارْتَـــكَبْتَهُ بِمَنِّكَ وَفَضْلِكَ وَجُوْدِكَ وَكَرَمِكَ يَاأَكْرَمَ اْلأَكْرَمِــيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Alhamdulillahi robbil ‘alamina wa habiyallahu wa ni’mal wakilu wala haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzimi. Allohumma inni abrou ilaika min hauli wa quwwati ila haulika wa quwwatika. Allohumma inni nawaitu bis sholati ‘alan nabiyyi shollallahu ‘alaihi wa sallama imtitsalan li amrika wa tashdiqon li nabiyyika sayyidina muhammadin shollallahu ‘alaihi wa sallama wa mahabbatan fihi wa syauqon ilaihi wa ta’dziman li qudrotihi wa likaunihi ahlan lizalika fataqobbalha minni bi fadhlika wa ihsanika wa azil hijabal ghaflati ‘an qolbi waj’alni min ‘ibadikas sholihina

Allohummazidhu syarofan ‘ala syarofihi allazi awlaitahu wa ‘izzan ‘ala ‘izzihi ‘alallazi a’thoithoitahu wa nuron ‘ala nurihillazi minhu kholaqtahu wa a’li maqomahu fi maqomatil mursalina wa darajatahu fi darajatin nabiyyina wa as-aluka ridhoka wa ridhohu ya robbal ‘alamina ma’al ‘afiyatid daimati wal mauti ‘alal kitabi was sunnati wal jama’ati wa kalimatais syahadati ‘ala tahqiqiha min ghairi taghyirin wala tabdilin waghfirli  martakabtuhu bi mannika wa fadhlika wa judika wa karomika ya akromal akromin wa shollallahu ‘ala sayyidina muhammadin wa alihi wa shohbihi wa sallam wa as-aluka ridhoka wa ridhohu ya robbal ‘alamina ma’al ‘afiyatid daimati wal mauti ‘alal kitabi was sunnati wal jama’ati wa kalimatais syahadati ‘ala tahqiqiha min ghairi taghyirin wala tabdilin waghfirli  martakabtuhu bi mannika wa fadhlika wa judika wa karomika ya akromal akromin wa shollallahu ‘ala sayyidina muhammadin wa alihi wa shohbihi wa sallam.

Artinya: “Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam. Cukuplah Allah sebagai tempat memasrahkan diri. Tiada daya dan upaya melainkan atas kehendak dan pertolongan  Allah. Ya Allah, aku memohon kelapangan dari-Mu dari upaya dan kekuatanku. Ya Allah, aku berniat dengan membaca sholawat atas Nabi Muhammad Saw karena menuruti perintah-Mu dan sebagai pembenaran atas nabi-Mu junjungan kami Nabi Muhammad Saw serta karena rasa cintaku dan demi untuk mengagungkan beliau, karena beliaulah yang berhak atas bacaan sholawat ini. Maka dari itu, terimalah bacaan sholawatku.

Dengan anugerah-Mu dan kebaikan-Mu, hilangkanlah hijab (penutup) yang berupa kealpaan dari dalam diriku kepada beliau. Dan jadikanlah hamba-Mu ini sebagai seorang yang dari golongan ahli ibadah yang saleh. Ya Allah, tambahkanlah kemuliaan beliau seperti kemuliaan yang telah Engkau limpahkan kepadanya, tambahkanlah keagungan kepada beliau seperti keagungan yang telah Engkau limpahkan kepadanya, tambahkanlah cahaya di atas cahayanya saat Engkau menciptakannya, angkatlah derajatnya pada derajatnya para nabi. Ya Allah, aku memohon ridha-Mu dan juga ridhanya, wahai Zat Yang Maha memelihara seluruh alam (limpahanlah kepadaku) dengan kesehatan yang abadi, dan kematian yang memegang kitab-Mu dan selalu berpegang pada ahlus sunnah wal jamaah, dan dua kalimat syahadat sebagai pegangan tanpa adanya perubahan maupun pergeseran.” 

 

Do’a Setelah Membaca Sholawat

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ والنَّارِ. اَللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Allahumma inna nas aluka ridhaka wal jannah, wana’udzu bika min sakhatika wan nar, rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzaban naar.

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya kami memohon keridhaan-Mu dan surga, kami berlindung pada-Mu dari murka-Mu dan siksa neraka. Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta hindarkanlah kami dari siksa neraka.”

Nah, Sobat, sekarang kamu sudah tahu teks sholawat Nabi, artinya, keutamaannya, amalan, dan adab membacanya. Yuk, mulai sekarang kita biasakan membaca sholawat setiap hari. Selain mendatangkan banyak kebaikan, kita juga menunjukkan cinta kita kepada Nabi Muhammad SAW. Semoga kita semua bisa mendapatkan syafaat Nabi di hari kiamat nanti. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *